Fagogoru, Adat, dan Do'a : Mengukur Kepemimpinan di Tengah Perubahan
Di tengah hiruk-pikuk perbincangan soal calon kepala desa di Kecamatan Weda, yang kini mengalir dari warung kopi hingga media sosial, ada satu tempat yang bagi penulis menjadi titik pusat refleksi: Desa Were. Tidak hanya karena memiliki Masjid Tertua di Weda, tapi karena pernah menjadi pusat mufakat tempat di mana solusi dibangun, bukan ditegaskan.
Di sana, ratusan tahun lalu, tidak ada papan rancangan kebijakan, tidak ada sistem formal. Yang ada hanyalah suara yang saling mengerti, pandangan yang saling menghargai, dan hati yang bersedia mendengar. Tempat itu menjadi simbol dari Nilai-Nilai Fagogoru: falsafah kehidupan yang mendasari masyarakat Weda, di mana kebenaran bukan datang dari kekuasaan, tapi dari konsensus, hormat, dan saling memahami.
Kini, dalam perjalanan demokrasi desa yang semakin maju, penting bagi kita untuk tidak melupakan: pemimpin yang baik bukan hanya siapa yang paling banyak bicara, tapi siapa yang paling mampu mendengar.
Kita dihadapkan pada pertanyaan besar: Apakah pemilihan kepala desa seharusnya hanya soal teknologi, popularitas, atau strategi media sosial? Atau, justru seharusnya kita mempertanyakan: apakah kandidat itu memahami adat? Mampu duduk bersama di masjid tua tanpa mengunggulkan satu suara di atas yang lain? Apakah ia membawa nilai-nilai Fagogoru dalam setiap langkahnya? Atau sebagaimana keheningan raga dan pikiran di saat pemanjatan do'a dengan pembagian suara tanpa ada yang diunggulkan selesai sholat magrib di mesjid tua saat malam jum'at??
Karena bagi warga Desa Were, keberhasilan seorang pemimpin tidak diukur dari jumlah janji di spanduk, tapi dari "Do'a dan tindakan, saat mata yang berkaca melihat warganya sedang di landah dukah dan pilu.”
Saat ini, dunia mulai melihat Desa Were bukan lagi sebagai kampung tua, tapi sebagai sabuk pemelihara adat tempat sejarah tidak hanya diingat, tapi dilangsungkan. Dan dalam semangat itu, muncul harapan: bahwa di tengah dunia yang cepat berubah, masih ada ruang untuk kepemimpinan yang tumbuh dari dalam, bukan dari luar.
Jika desa ini menginginkan pemimpin yang benar-benar “diterima oleh tanah”, maka ia harus datang bukan dengan kampanye besar, tapi dengan kehadiran yang sudah dikenal sejak lama orang yang tahu nilai-nilai kampung, yang pernah duduk bersama di masjid tua, yang tahu bagaimana bicara tanpa berteriak.
Karena pada akhirnya, pemimpin terbaik bukan yang paling menonjol di panggung, tetapi yang paling dirasakan saat keheningan turun dan masih tetap hadir.
Penulis: Mr. Chulleyevo, Pegiat Literasi Desa Were | 31 Januari 2026

0 Komentar