UMK Halteng 2026 Belum Final, Pengusaha dan Buruh Ajukan Usulan Berbeda
Desember 25, 2025

Memulai pagi dengan canva kosong, para pejabat di daerah lain mungkin mewarnai canva itu dengan coretan pertemuan di hotel berbintang, ataupun warna-warni tanaman dari kebun pribadi. Sabtu pagi kemarin, keheningan hutan belantara yang masih perawan di Weda Tengah, sebuah rombongan kendaraan roda empat menelusuri jalan ramai yang di lewati karyawan iwip berangkat dan pulang kerja. Hingga tiba di hilir sungai, rombongan harus bertukar kendaraan modifikasi yang oleh warga lokal menyebutnya bodi, mengikuti tenangnya arus sungai, dengan kicauan burung. Di dalamnya, Bupati Ikram Malan Sangadji bersama Wakil Bupati Ahlan Djumadil dan Sekretaris Daerah Bahri Sudirman terus melaju, kuyup oleh percikan air seakaan alam berucap selamat datang kepada mereka. Mereka bukan sedang berpetualang, melainkan menjalankan sebuah misi yang telah tertunda selama dua dekade, sekedar silatuhrami penguasa dengan warganya yang telah lama dilupakan oleh penguasa fagogoru.
Dusun Kulo, nama yang mungkin tidak pernah tertera dalam peta administrasi resmi menjadi destinasi akhir perjalanan yang memakan waktu lebih dari empat jam ini. Dua setengah jam perjalanan mengikuti sungai menggunakan bodi, dilanjutkan dengan trekking satu setengah jam menembus hutan dan menyusuri sungai. Perjalanan ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan sebuah ziarah politik untuk membuktikan bahwa kepemimpinan yang mereka bawa dengan akronim IMS-ADIL benar-benar hadir di tanah terpencil sekalipun.
"Kehadiran kami juga sebagai silaturahmi menjelang Hari Raya Natal dan Tahun Baru," ujar Bupati Ikram. Warga yang menyambut mereka dengan air mata haru, begitu rombongan tiba di Dusun Kulo. Kalimat sederhana ini membawa beban histories yang berat selama 20 tahun terakhir, tidak pernah ada seorang pun pejabat pemerintah daerah yang menginjakkan kaki di dusun yang dihuni sekitar 11 kepala keluarga ini.
Dusun Kulo terletak di tengah hutan belantara Kecamatan Weda Tengah, sebuah wilayah yang secara geografis terisolir namun kaya akan sumber daya alam. Sebelas kepala keluarga tinggal di sini, hidup secara subsisten dari hasil kebun dan sungai. Mereka adalah warga adat yang masih memegang teguh tradisi leluhur, menjaga kekompakan komunitas di tengah kesendirian yang memaksa mereka untuk mandiri.
Namun di balik keteguhan mereka menyimpan kisah pilu tentang ketiadaan penguasa. Selama lebih dari dua dekade, Kulo menjadi warga siluman dalam sistem administrasi pemerintahan. Tidak ada data resmi yang mencatat keberadaan mereka. Tidak ada akses layanan kesehatan dasar, puskesmas terdekat berjarak puluhan kilometer dengan medan yang sama sulitnya. Tidak ada sekolah formal bagi anak-anak mereka. Tidak ada program bantuan sosial yang pernah menyentuh kehidupan mereka. Mereka benar-benar hidup dalam ruang hampa kehadiran para penguasa berjubah fagogoru.
Kondisi ini mencerminkan fenomena yang lebih besar di Indonesia Timur ketimpangan spasial dalam tata kelola pemerintahan. Banyak dusun dan kampung adat di Maluku Utara dan wilayah timur lainnya mengalami nasib serupa, terabaikan bukan karena tidak ada, melainkan karena terlalu sulit dijangkau, terlalu kecil untuk diperhitungkan, dan terlalu jauh dari pusat kekuasaan.
"IMS-ADIL" bukan sekadar akronim dari nama Bupati Ikram Malan Sangadji dan Wakil Bupati Ahlan Djumadil. Ini adalah sebuah kontrak politik yang mereka bangun dengan rakyat Halmahera Tengah. Kata "Adil" dalam akronim ini bukan hanya bermakna etis, tetapi menjadi visi strategis untuk membangun Halmahera Tengah dari wilayah yang paling terbelakang terlebih dahulu.
Filosofi ini sejalan dengan nilai-nilai Fagogoru, yaitu nilai-nilai lokal tentang persaudaraan, kebersamaan, dan kepedulian dalam masyarakat Halmahera. Fagogoru mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki martabat yang sama, dan tanah harus diperlakukan sebagai ibu yang memberi hidup. Dengan mengunjungi Dusun Kulo, pemerintah daerah melakukan "ritual pemulihan martabat" bagi komunitas yang lama terpinggirkan.
"Saya bersama Wakil Bupati dan Sekda datang ke sini untuk melihat langsung kondisi warga Dusun Kulo yang selama ini belum pernah tersentuh kebijakan dan program pemerintah daerah," tegas Bupati dengan suara yang bergetar. Pernyataan ini penulis kira sebuah gambaran utuh, untuk menunjukkan dimensi kemanusiaan dan kerohanian dalam pendekatan kepemimpinannya tidak hanya soal pembangunan fisik, tetapi juga rekonsiliasi emosional antara rakyat dan pemerintah.
Gaya kepemimpinan Ikram Malan Sangadji digambarkan dekat dengan rakyat, berani menjangkau wilayah sulit, dan memiliki pendekatan partisipatif dalam pembangunan. Masyarakat pesisir Halmahera menyebutnya sebagai "kepemimpinan yang basah kuyup bersama rakyat"—sebuah metafora yang sangat tepat menggambarkan bagaimana seorang pemimpin harus bersedia kotor, lelah, dan berkeringat bersama warganya.
Kunjungan ke Dusun Kulo menunjukkan transformasi dalam budaya birokrasi Fagogoru Halmahera Tengah, dari pemerintahan yang hanya hadir di ibu kota, menjadi pemerintahan yang "turun gunung". Kehadiran Bupati Ikram Sangadji dan Wakil Bupati Ahlan Djumadil sekaligus keberadaan Sekda Bahri Sudirman dalam rombongan mengindikasikan bahwa reformasi birokrasi ini dimulai dari puncak administrasi. Sementara itu, hadirnya pimpinan OPD terkait menunjukkan bahwa kunjungan ini didukung oleh sistem birokrasi yang siap menindaklanjuti hasil kunjungan dengan kebijakan nyata.
Tim kesehatan dari Puskesmas Kobe juga turut serta, dipimpin oleh Kepala Puskesmas dan dokter yang langsung memberikan pelayanan medis dasar kepada warga. Ini menandai titik awal dari pembangunan sistem layanan kesehatan berkelanjutan untuk wilayah terpencil. Hadir pula Camat Weda Tengah, Kasubsektor, dan aparat pengamanan dari Sat Brimob serta Babinsa, yang menunjukkan sinergi antar lembaga dalam menjangkau wilayah konflik atau terpencil potensial.
Fakta bahwa butuh 20 tahun bagi pemerintah daerah untuk mengunjungi Dusun Kulo menunjukkan adanya kegagalan sistemik dalam implementasi nilai-nilai fagogoru pada periode pemerintahan sebelumnya. Dalam konteks sejarah, banyak dusun terpencil di Maluku Utara menjadi terabaikan karena pembagian wilayah yang kompleks dan kurangnya infrastruktur penghubung.
Dusun Kulo adalah representasi nyata dari ketimpangan spasial dalam tata kelola pemerintahan yang berlandaskan nilai-nilai Fagogoru. Pembagian wilayah administratif yang tidak mempertimbangkan aksebilitas fisik telah menciptakan "negara dalam negara" wilayah-wilayah yang secara de jure bagian dari Indonesia, tetapi secara de facto terpisah dari layanan dasar negara.
Selain itu, paradigma pembangunan yang selama ini berorientasi dari pusat ke pinggiran secara tidak sadar telah mengabaikan wilayah-wilayah seperti Kulo. Logika birokrasi yang mengutamakan efisiensi dan kemudahan akses membuat wilayah-wilayah terpencil menjadi prioritas terakhir dalam pencairan anggaran dan program pembangunan.
Peluang dan Tantangan ke Depan
Peluang; Hasil kunjungan dapat menjadi proyek pilot dalam kebijakan pembangunan inklusif di wilayah terpencil di provinsi Maluku Utara. Keberhasilan integrasi Dusun Kulo bisa dijadikan model untuk dusun-dusun serupa di Kecamatan Weda Tengah dan wilayah lainnya. Penguatan identitas lokal berbasis nilai Fagogoru dapat menjadi fondasi gerakan sosial yang memperkuat semangat kebersamaan dan kesetaraan.
Tantangan; Keterbatasan anggaran dan sumber daya dapat menghambat keberlanjutan program. Risiko bahwa kunjungan ini hanya menjadi pencitraan jika tidak diikuti dengan kebijakan struktural yang kuat. Potensi ketidakstabilan keamanan jika pembangunan lambat, mengingat wilayah terisolir berpotensi menjadi tempat radikalisasi atau kerusuhan sosial.
Rekomendasi untuk Langkah Lanjutan Pemerintah Daerah Halmahera Tengah perlu:
1. Membuat Peta Keterpencilan secara resmi untuk mengidentifikasi semua dusun terisolir di wilayahnya, dengan prioritas penanganan berdasarkan tingkat kerentanan.
2. Membentuk Tim Gabungan Terpadu untuk wilayah terpencil, yang terdiri dari dinas terkait (kesehatan, pendidikan, PU, pertanian, dan sosial) yang melakukan kunjungan rutin minimal dua kali setahun.
3. Menginisiasi program "Satu PNS, Satu Dusun Terpencil" untuk mengerahkan aparatur sipil negara berdialog dan membantu komunitas pedalaman.
4. Mengalokasikan anggaran khusus untuk pembangunan infrastruktur dasar di wilayah terpencil dalam APBD tahunan.
5. Membangun sistem monitoring dan evaluasi yang transparan untuk memastikan keberlanjutan program.
Kunjungan Bupati IMS-ADIL ke Dusun Kulo lebih dari sekadar kunjungan kerja. Ini adalah tonggak sejarah dalam reformasi kepemimpinan dan pemerintahan di Halmahera Tengah. Secara simbolik, ini adalah pernyataan bahwa pemimpin fagogoru tidak lagi hadir secara abstrak, tetapi menyentuh tanah, berkeringat, dan melangkah di antara rakyat yang terlupakan.
Dalam perspektif filosofis, kunjungan ini mengingatkan kita pada esensi demokrasi dan kepemimpinan "bahwa kekuasaan yang sejati bukanlah kemampuan mengatur dari jauh, melainkan ketulusan untuk mendekat, mendengar, dan merasakan bersama mereka yang paling terpinggirkan sekalipun."
Kisah Dusun Kulo adalah metafora yang kuat tentang luka ketimpangan dan harapan dari kepemimpinan yang berhati. Ini mengajarkan bahwa pembangunan sejati harus dimulai dari mereka yang paling terbelakang, dari mereka yang paling sulit dijangkau, dari mereka yang paling lama dilupakan, karena di situlah kita menemukan ukuran sebenarnya dari keadilan dan kemanusiaan.
Ketika senja berakhir dan malam tiba di Dusun Kulo, ada cahaya harapan yang mulai menyala. Kehadiran Bupati, Wakil Bupati, dan Sekda Halmahera Tengah mungkin hanya beberapa jam, tetapi dampaknya akan terasa bertahun-tahun. Bagi warga Kulo, ini bukan sekedar kunjungan, ini adalah bukti bahwa mereka tidak dilupakan, bahwa mereka dilihat, bahwa mereka penting.
Dalam agenda "Fagogoru Bermartabat", visi besar pemerintahan IMS-ADIL untuk menjadikan Halmahera Tengah sebagai daerah yang adil secara ruang, ekonomi, dan sosial, Dusun Kulo menjadi babak pertama dari sebuah cerita panjang tentang perjuangan memulihkan martabat mereka yang terpinggirkan.
Perjalanan masih panjang, banyak tantangan menanti, tetapi dengan fondasi kehadiran yang tulus dan komitmen yang nyata, Bumi Fagogoru sedang menulis ulang sejarahnya. Sejarah tentang bagaimana kepemimpinan yang adil tidak hanya bicara tentang pembangunan, tetapi benar-benar menapakkannya di tanah yang paling terpencil sekalipun.
Di Dusun Kulo, di ujung tanah Legae Cekel, harapan itu kini dinyalakan. Dan dari titik nol inilah transformasi nilai Fagogoru sesungguhnya dimulai.
Oleh : Mr.Chulleyevo (Pegiat Literasi)
0 Komentar