UMK Halteng 2026 Belum Final, Pengusaha dan Buruh Ajukan Usulan Berbeda
Desember 25, 2025

Sejak panitia membuka pendaftaran Fagogoru Open Turnamen (FOT) ke-5, nama Persigo FC nyaris tidak terdengar sebagai tim yang siap tempur. Mereka sempat mendaftar di awal, tapi beberapa hari kemudian, sebuah telepon masuk mengabarkan mereka mundur. Alasannya sederhana: tim belum siap. Tak ada yang menyangka, keputusan itu justru menjadi awal dari kisah yang paling menarik di turnamen tahun ini.
Waktu terus berjalan. Semua pool sudah ditentukan, sampai akhirnya kabar mengejutkan Wato-Wato FC mundur di detik-detik terakhir. Dalam pikiran saya yang pertama kali muncul hanyalah satu nama: Persigo.
Entah kenapa, naluri saya mengatakan mereka harus diberi kesempatan kedua. Saya segera menghubungi mereka, dan kali ini, tanpa ragu, mereka menjawab: “Kami siap.”
Surat resmi segera dikirim ke semua tim peserta. Tak ada keberatan. Semua legowo menerima kehadiran Persigo kembali, mungkin karena nama mereka sudah punya sejarah di FOT, tim pertama yang pernah mengangkat trofi di gelaran perdana di Tepeleo.
Tapi takdir punya cara lucu menguji hati panitia. Persigo, yang awalnya hanya “tim pengganti”, justru menyingkirkan tim kesayangan saya sendiri: Persibat. Sejak saat itu, saya tahu cerita ini akan jadi lebih dari sekadar pertandingan, ini perjalanan tentang keyakinan dan pembuktian.
Namun jalan mereka tidak selalu mulus. Di tengah euforia kompetisi, duka datang menghampiri. Salah satu tokoh penting di Getowasi, almarhum Al-Qadri, berpulang. Bagi Persigo, itu bukan sekadar kabar duka, itu kehilangan sosok yang selama ini jadi semangat di balik perjuangan mereka. Tapi luar biasa, di atas kesedihan itu, mereka tetap berdiri tegak. Mereka bermain dengan hati, dengan air mata, dengan keyakinan bahwa setiap langkah di lapangan adalah persembahan.
Di semifinal, mereka bertemu Persimapura tim besar, sama-sama pernah juara, sama-sama punya bintang di dada. Tapi sore tadi, sejarah kembali berpihak kepada yang berani. Persigo melangkah ke final, dengan membawa semua cerita: ragu, duka, dan kebangkitan.
Kini, di laga puncak FOT 5, satu pertanyaan menggantung di udara:
Apakah Persigo akan menambah bintangnya menjadi dua, menegaskan dirinya sebagai legenda?
Ataukah sejarah baru akan lahir dari tangan pendatang baru yang lapar akan kemenangan?
Yang jelas, perjalanan Persigo sudah memberi satu pelajaran berharga:
Dalam sepak bola seperti juga dalam hidup yang dianggap tidak siap, kadang justru yang paling siap menghadapi segalanya.
Oleh : Faizal Ikbal
0 Komentar