Breaking News

Halmahera Tengah Kehilangan Salah Satu Putra Terbaiknya, Di Dekat Asrama Haji, Aba Acim Ingin Tetap Dekat dengan Orang Weda

 

WEREINFO — Makassar | Ada kepergian yang meninggalkan lebih dari sekadar kabar duka. Ia membawa pulang kenangan tentang sebuah zaman, tentang pengabdian, dan tentang seorang anak Weda yang pernah menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk daerah yang dicintainya.


Kabar duka itu datang pada Jumat (14/8/2026) malam. Ir. H.M. Al Yasin Ali, M.MT, atau yang akrab disapa Aba Acim, tokoh asal Weda yang pernah memimpin Halmahera Tengah selama dua periode dan menjabat Wakil Gubernur Maluku Utara, berpulang ke Rahmatullah di Makassar, Sulawesi Selatan.


Aba Acim mengembuskan napas terakhir di usia 68 tahun. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, para birokrat yang pernah bekerja bersamanya, serta masyarakat Weda dan Halmahera Tengah.


Sepuluh Tahun Memimpin Halmahera Tengah. Nama Al Yasin Ali tidak dapat dipisahkan dari perjalanan pemerintahan Halmahera Tengah.


Ia dipercaya menjadi Bupati Halmahera Tengah selama dua periode, 2007–2012 dan 2012–2017. Sepuluh tahun berada di pucuk pemerintahan membuat sosok Aba Acim melekat kuat dalam ingatan masyarakat, terutama generasi Weda yang menyaksikan langsung perjalanan daerah pada masa kepemimpinannya.


Pada masa itu, Weda terus berkembang sebagai pusat pemerintahan Halmahera Tengah. Berbagai dinamika pembangunan dan pemerintahan dilalui, menjadikan periode tersebut bagian penting dari sejarah perjalanan daerah.


Bagi masyarakat Weda, Aba Acim bukan hanya seorang mantan bupati. Ia adalah putra daerah yang perjalanan pengabdiannya tidak dapat dipisahkan dari Halmahera Tengah.


Dari Weda ke Panggung Maluku Utara. Setelah menyelesaikan dua periode sebagai Bupati Halmahera Tengah, perjalanan politik dan pengabdian Al Yasin Ali berlanjut ke tingkat Provinsi Maluku Utara.


Pada 2019, ia dilantik bersama Abdul Gani Kasuba sebagai Wakil Gubernur Maluku Utara periode 2019–2024. Dalam perjalanan pemerintahan provinsi, Al Yasin Ali kemudian sempat menjalankan tugas sebagai Pelaksana Tugas Gubernur Maluku Utara.


Meski telah berada di tingkat provinsi, hubungan Aba Acim dengan Weda tidak pernah benar-benar terputus.


Nama dan perjalanan hidupnya tetap menjadi bagian dari cerita masyarakat Halmahera Tengah.


Sebuah Pesan yang Kini Terasa Berbeda, di tengah suasana duka, seorang sanak keluarga mengenang satu ucapan Aba Acim yang kini terasa begitu dalam.


Aba disebut pernah berpesan bahwa apabila dirinya meninggal dunia, ia ingin dimakamkan di kawasan Sudiang, Makassar, dekat Asrama Haji.


Alasannya sederhana, tetapi menyentuh.


"Belilah tanah di Sudiang dekat Asrama Haji. Kalau saya meninggal di Makassar. Sapa tahu ada orang Weda yang berangkat haji, bisa berziarah ke makam saya."


Kini, ucapan itu tidak lagi terdengar seperti sekadar pesan tentang tempat peristirahatan terakhir.


Ia seperti sebuah pesan terakhir dari seorang putra Weda kepada orang-orang sekampung halamannya.


Selama bertahun-tahun, Aba Acim memang memiliki kedekatan dengan perjalanan jamaah haji Maluku Utara. Saat menjabat Wakil Gubernur, ia pernah melepas dan menerima jamaah haji Maluku Utara yang melalui Embarkasi Makassar. Asrama Haji Sudiang menjadi salah satu tempat yang tidak asing dalam perjalanan pengabdiannya. 


Dan kini, tempat yang pernah menjadi bagian dari aktivitas pengabdiannya itu mungkin akan menjadi tempat orang-orang Weda mengenangnya.


Bukan tidak mungkin, suatu hari nanti seorang jamaah haji dari Weda melewati kawasan Sudiang, kemudian berhenti sejenak untuk mengirimkan doa di pusara Aba Acim.


Sebuah pesan sederhana. Namun, di situlah terasa betapa kuatnya ikatan seorang manusia dengan tanah kelahirannya.


Weda Kehilangan Seorang Tokoh. Kepergian Aba Acim bukan hanya kehilangan bagi keluarga. Masyarakat kehilangan seorang tokoh yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan pemerintahan Halmahera Tengah. Para birokrat kehilangan seorang senior. Dan generasi Weda kehilangan salah satu nama yang pernah menghiasi sejarah daerah ini.


Jabatan akan berganti.


Pemerintahan akan terus berjalan.


Generasi akan datang dan pergi.


Namun kenangan tentang seorang tokoh tidak berhenti ketika ia dimakamkan.


Ia hidup dalam cerita orang-orang yang pernah mengenalnya, dalam sejarah pemerintahan yang pernah dipimpinnya, dan dalam ingatan masyarakat yang pernah berjalan bersamanya.


Kini Aba Acim telah berpulang.


Weda akan terus tumbuh. Halmahera Tengah akan terus bergerak.


Dan mungkin suatu hari, ketika orang-orang Weda berangkat menunaikan ibadah haji melalui Makassar, ada yang akan mengingat pesan Aba Acim.


Mereka mungkin akan berhenti di Sudiang.


Menundukkan kepala.


Membaca doa.


Lalu mengenang seorang putra Weda yang telah lebih dahulu pulang.


Selamat jalan, Aba Acim.


Semoga Allah SWT mengampuni segala khilaf dan salah, menerima amal ibadah serta pengabdiannya, melapangkan kuburnya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.


Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan keikhlasan.


Dan semoga nama Aba Acim tetap hidup dalam ingatan generasi Weda, bukan hanya sebagai seorang mantan pejabat, tetapi sebagai bagian dari perjalanan panjang sebuah daerah yang pernah ia pimpin dan cintai.


Innalillahi wa inna ilaihi raji'un.


(Red/Wereinfo.com)