Kuliah Kerja Nyata (KKN) tidak pernah dimaksudkan sekadar menjadi agenda akademik yang berakhir pada penyusunan laporan atau pemenuhan beban kurikulum. KKN merupakan ruang di mana perguruan tinggi mempertaruhkan kredibilitas pengabdiannya kepada masyarakat melalui implementasi Tridharma Perguruan Tinggi. Karena itu, keberhasilan KKN tidak cukup diukur dari banyaknya program kerja yang terlaksana, tetapi dari sejauh mana mahasiswa mampu membangun hubungan sosial yang sehat, menghadirkan kepercayaan, dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat tempat mereka belajar mengabdi.
Kelurahan Bobo menerima sepuluh mahasiswa KKN Tahap I Universitas Khairun Ternate Tahun 2026 dengan harapan besar. Masyarakat membuka ruang kolaborasi, sementara pemuda kampung berharap kehadiran mahasiswa dapat menjadi energi baru dalam membangun dialog, pemberdayaan, dan pertukaran gagasan. Namun dalam perjalanannya, sebagian masyarakat menilai interaksi sosial antara mahasiswa dan warga belum berlangsung secara optimal. Bahkan terdapat warga yang baru mengetahui bahwa Kelurahan Bobo menjadi lokasi KKN setelah kegiatan berjalan beberapa waktu. Terlepas dari berbagai faktor yang mungkin memengaruhinya, kondisi ini layak dijadikan bahan evaluasi bersama, bukan untuk mencari siapa yang salah, melainkan bagaimana kualitas pengabdian dapat terus diperbaiki.
Catatan ini juga tidak ditujukan untuk membebankan seluruh tanggung jawab kepada mahasiswa. Dalam ekosistem KKN, terdapat peran penting Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) sebagai pendamping akademik sekaligus pembimbing karakter pengabdian. Kehadiran DPL bukan hanya memastikan program kerja berjalan sesuai rencana, tetapi juga membimbing mahasiswa agar mampu membaca dinamika sosial masyarakat, memahami budaya lokal, serta membangun komunikasi yang baik dengan warga. Oleh karena itu, masyarakat berharap proses pendampingan DPL semakin menekankan bahwa membaur bukan sekadar aktivitas sosial, melainkan bagian dari etika pengabdian yang tidak terpisahkan dari Tridharma Perguruan Tinggi.
Secara akademik, pengabdian kepada masyarakat merupakan proses pembelajaran dua arah. Mahasiswa memang membawa ilmu pengetahuan dari kampus, tetapi masyarakat menghadirkan pengalaman, nilai-nilai lokal, dan kebijaksanaan sosial yang tidak pernah diajarkan di ruang kuliah. Interaksi inilah yang menjadi inti dari KKN. Ketika mahasiswa belum cukup dekat dengan masyarakat, sesungguhnya bukan hanya warga yang kehilangan kesempatan untuk memperoleh manfaat, tetapi mahasiswa juga kehilangan ruang belajar yang paling otentik. Karena itu, membangun kedekatan sosial bukanlah pelengkap program, melainkan syarat utama agar pengabdian memiliki makna.
Dari perspektif sosiologi pembangunan, partisipasi masyarakat hanya akan tumbuh apabila didahului oleh rasa saling percaya. Kepercayaan tidak lahir melalui seremoni pembukaan, dokumentasi kegiatan, ataupun laporan administrasi. Ia tumbuh dari kebiasaan sederhana: menyapa warga, duduk bersama para orang tua, berdialog dengan pemuda, ikut terlibat dalam aktivitas masyarakat, dan mendengarkan persoalan mereka tanpa sekat. Di sinilah DPL memiliki peran strategis untuk terus mengingatkan mahasiswa bahwa keberhasilan KKN bukan hanya soal menyelesaikan program, tetapi juga soal membangun relasi kemanusiaan.
Sebagai mitra perguruan tinggi, masyarakat Kelurahan Bobo memandang kritik sebagai bagian dari kolaborasi, bukan konfrontasi. Kampus, DPL, mahasiswa, pemerintah kelurahan, dan masyarakat sesungguhnya sedang mengemban tujuan yang sama, yaitu menghadirkan pengabdian yang memberikan manfaat nyata. Karena itu, evaluasi ini diharapkan menjadi ruang dialog yang produktif agar pelaksanaan KKN pada periode-periode berikutnya semakin berkualitas, semakin partisipatif, dan semakin membumi.
Harapan masyarakat kepada Dosen Pembimbing Lapangan sederhana namun mendasar: jadikan nilai membaur sebagai bagian dari proses pembimbingan yang sama pentingnya dengan penyusunan program kerja. Sebab mahasiswa tidak hanya membawa nama pribadi, tetapi juga membawa nama perguruan tinggi. Ketika mereka mampu hidup bersama masyarakat dengan rendah hati, maka kampus sedang menunjukkan wajah terbaiknya sebagai institusi yang melahirkan intelektual berkarakter.
Pada akhirnya, masyarakat tidak akan mengenang siapa yang paling banyak menyusun proposal atau siapa yang menghasilkan laporan paling tebal. Yang akan dikenang adalah siapa yang hadir dengan ketulusan, siapa yang bersedia belajar bersama masyarakat, dan siapa yang meninggalkan jejak kemanusiaan. Kampung Bobo mengajarkan satu pelajaran sederhana tetapi mendalam: pengabdian tidak dimulai ketika mahasiswa tiba di lokasi KKN, melainkan ketika mereka memilih untuk membaur. Di situlah peran kampus, DPL, mahasiswa, dan masyarakat bertemu dalam satu tujuan yang sama, yakni menghadirkan Tridharma Perguruan Tinggi yang benar-benar hidup di tengah masyarakat.
Oleh: Ar. Ishak (Anak Kampung)
