Breaking News

Formapas Malut Soroti Kontribusi Nyata PT Smart Marsindo di Pulau Gebe

 

WEREINFO — Di tengah deru mesin tambang yang memecah sunyi malam, ada yang tak terdengar: harapan. Tapi di Pulau Gebe, daerah kepulauan yang selama ini terpuruk dalam akses pendidikan dan kesehatan, suara itu mulai terdengar jelas bukan dari proyek milik negara, melainkan dari tangan-tangan perusahaan tambang.

PT Smart Marsindo, yang dalam sejarahnya sering digambarkan sebagai simbol eksploitasi sumber daya, kini menempatkan diri sebagai actor utama dari perubahan sosial yang nyata. Bukan lewat iklan, tetapi dengan kontribusi berkelanjutan yang menggugah, dari pembangunan sekolah baru, bantuan speed boat untuk transportasi warga, hingga penyediaan ambulans untuk mengatasi keterlambatan pertolongan saat darurat.

“Ini bukan sekadar corporate social responsibility yang sekadar dijalankan di akhir tahun. Ini adalah keputusan strategis,” ujar Alfian Sangaji, Sekretaris Bidang ESDM Forum Mahasiswa Pascasarjana (Formapas) Maluku Utara Jabodetabek-Banten kelompok kritis yang justru menjadi saksi sekaligus pengamat aktif atas perkembangan perusahaan ini.

Formapas, yang biasanya dikenal kerap mengkritik kebijakan pertambangan tanpa pertimbangan sosial, kini justru memberikan apresiasi lantang. “Kami tahu betapa sulitnya membangun pendidikan di kawasan kepulauan. Tapi Smart Marsindo tidak menunggu perintah. Mereka mengambil inisiatif,” tambahnya, sambil menunjuk pada dokumen rencana pembangunan gedung sekolah yang akan segera dimulai di desa pesisir.

Sebutlah itu sebuah bentuk penyesalan yang produktif. Dulu, industri tambang sering dikaitkan dengan pengusiran warga, kerusakan ekosistem, dan korupsi kecil yang membesar. Tapi di Pulau Gebe, ada tanda-tanda bahwa mungkin, perubahan benar-benar sedang terjadi bukan karena tekanan publik semata, tapi karena ada strategi jangka panjang, pembangunan sosial sebagai fondasi dari keberlanjutan bisnis.

Yang lebih menarik: Formapas Malut tidak hanya mengapresiasi. Mereka juga membanting tulang untuk membenarkan narasi yang sempat terdistorsi. Setelah viralnya kabar bahwa Shanty Alda Nathalia, anggota DPR RI asal Jawa Tengah, masih menjabat sebagai Direktur Utama PT Smart Marsindo, kubu Formapas langsung melakukan penelusuran menyeluruh.

“Kami mengecek data dari Kemenkumham, Kemenkeu, dan juga dokumen resmi perusahaan,” jelas Alfian. “Dan ternyata, Shanty sudah melepas jabatannya sejak resmi dilantik menjadi anggota DPR. Jangan biarkan nama besar jadi alat manipulasi.”

Di balik isu yang seolah-olah mempertarungkan ‘politik dan bisnis’, terbuka sebuah kebenaran: dalam dunia yang semakin kompleks, keberhasilan sebuah perusahaan bukan ditentukan oleh keuntungan semata, tapi juga oleh bagaimana ia merawat manusia, lingkungan, dan kepercayaan publik di sekitarnya.

Di Pulau Gebe, anak-anak kini memiliki harapan. Tidak lagi hanya menatap laut kecil dengan impian menyeberang. Kini, mereka melihat sekolah yang sedang dibangun, dan sebuah ambulans yang bisa membawa mereka lebih cepat ke tempat layanan.

Dan untuk pertama kalinya, sejak tambang berdiri di sini, masyarakat memandang perusahaan bukan sebagai pengusir tapi sebagai penjaga masa depan. (Red)

Editor : Mr.c