Breaking News

Serikat Petani Indonesia Gelar Kongres ke-5 di Jambi

 

WEREINFO – Kongres ke-V Serikat Petani Indonesia digelar di Kota Jambi pada 20-25 Juli 2025, dengan tema utama "Menggalang Persatuan Politik dan Ekonomi Kerakyatan untuk Memperjuangkan Reforma Agraria dan Kedaulatan Pangan menuju Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia." Acara ini dihadiri ribuan petani dari seluruh pelosok Nusantara, mulai dari Aceh hingga Papua.

Pembukaan resmi kongres dilakukan oleh Wakil Menteri Koperasi yang didampingi berbagai pejabat penting, antara lain staf ahli dari Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Kehutanan, Wakil Gubernur Jambi, serta Presiden Partai Buruh.

Agenda kongres yang berlangsung selama lima hari ini meliputi Musyawarah Pemuda Tani, Musyawarah Perempuan Petani, Musyawarah Koperasi Petani Indonesia, dan puncaknya Kongres Serikat Petani Indonesia. Musyawarah Pemuda dan Perempuan Tani masing-masing dihadiri ratusan delegasi, sementara Musyawarah Koperasi Petani diikuti sekitar 1.000 koperasi dari seluruh Indonesia. Kongres diharapkan dihadiri oleh hingga 5.000 petani sebagai basis Serikat Petani Indonesia.

Ketua Serikat Petani Indonesia, Hendri Saragih, membuka resmi kongres tersebut. Hendri juga merupakan pimpinan organisasi petani dunia La Via Campesina dan Ketua Dewan Penasihat Partai Buruh.

Ali Akbar Muhammad, perwakilan Maluku Utara sekaligus anggota Panitia Persiapan Wilayah Serikat Petani Indonesia, hadir pada kongres ini membawa hasil tani lokal seperti sagu dan pala. Ia memamerkan hasil pertanian tersebut dalam pameran kongres sebagai simbol perlawanan terhadap kapitalisme pertambangan yang dianggap mengancam keberlangsungan petani dan masyarakat adat.

“Selain dipamerkan, sagu dan pala kami bawa sebagai kampanye kedaulatan pangan dan reforma agraria sekaligus melawan kapitalisme pertambangan yang merusak sumber daya alam dan mengusir petani serta masyarakat adat dari ruang hidupnya. Jika dibiarkan, hasil tani lokal Maluku Utara akan habis karena kerusakan yang ditimbulkan oleh pertambangan,” ujar Ali Akbar.

Ali mengajak seluruh petani untuk membangun koperasi yang mandiri dan bergabung dengan Serikat Petani Indonesia, menolak model koperasi yang dibangun pemerintah secara top-down.

“Organisasi dan koperasi petani adalah kunci mempertahankan hasil tani lokal sekaligus upaya melawan kapitalisme pertambangan,” tambahnya.

Dalam kongres itu, Ali juga menyampaikan dukungan penuh terhadap perjuangan masyarakat adat Maba Sangaji yang sedang menghadapi penangkapan 11 anggota mereka oleh aparat kepolisian. Ia menuntut pembebasan mereka dan meminta pemerintah serta PT. POSITION bertanggung jawab atas penyerobotan tanah dan hutan adat masyarakat Maba Sangaji. Ali mendesak pemerintah menghentikan aktivitas PT.POSITION yang merugikan masyarakat adat.

Selain itu, Ali meminta evaluasi menyeluruh terhadap proyek hilirisasi nikel dan izin usaha pertambangan di Maluku Utara yang berdampak negatif bagi petani, masyarakat adat, dan buruh, mulai dari hilangnya ruang hidup, pencemaran lingkungan, hingga insiden kematian buruh.

Ali juga menyampaikan apresiasi kepada DPP Serikat Petani Indonesia atas ruang partisipasi yang diberikan kepada Panitia Persiapan Wilayah Maluku Utara dalam menyukseskan kongres ini. Ia mengucapkan terima kasih kepada semua pengurus dan sahabat yang mendukung keberangkatan mereka mengikuti kongres. (*)

Editor : Mr.c