WEREINFO — Weda, 03/06/26 | Hujan berintensitas tinggi yang mengguyur Kota Weda senin sore hingga pukul 23.00 WIT kemarin mengakibatkan banjir di sejumlah kawasan permukiman dalam pusat kota (01/06/26). Ketinggian air di beberapa titik mencapai pinggang orang dewasa sehingga memaksa sebagian warga mengungsi ke lokasi yang lebih aman.
Banjir juga menggenangi RSUD Weda sehingga sejumlah pasien harus dievakuasi guna menjaga keselamatan dan kelancaran pelayanan kesehatan.
Menanggapi kondisi tersebut, Pemuda Weda, Rian, meminta Pemerintah Kabupaten Halmahera Tengah dibawah kepemimpinan IMS ADIL menjadikan persoalan banjir sebagai salah satu prioritas pembangunan daerah.
Menurutnya, banjir yang kembali terjadi di pusat Kota Weda tidak dapat dipandang semata-mata sebagai dampak tingginya curah hujan, melainkan menjadi indikator perlunya evaluasi terhadap sistem drainase, tata ruang, dan pengelolaan kawasan perkotaan.
"Ini bukan hanya soal genangan air, tetapi menyangkut keselamatan masyarakat, pelayanan kesehatan, aktivitas ekonomi, dan kualitas hidup warga," ujar Rian.
Ia menilai, sebagai ibu kota kabupaten yang berkembang pesat, Weda membutuhkan sistem infrastruktur yang mampu mengantisipasi risiko banjir. Apalagi secara geografis, Kota Weda berada di antara kawasan perbukitan dan pesisir Teluk Weda yang memiliki kerentanan terhadap luapan air saat hujan dengan intensitas tinggi.
Rian menjelaskan bahwa salah satu aspek penting yang perlu dievaluasi adalah sistem perencanaan drainase yang selama ini diterapkan. Menurutnya, pembangunan drainase tidak cukup hanya berfokus pada ukuran saluran, tetapi harus memperhitungkan luas daerah tangkapan air (catchment area) dan debit rencana (Q design) yang akan masuk ke dalam sistem drainase.
"Seiring pertumbuhan Kota Weda, kawasan terbangun semakin luas sehingga limpasan air hujan yang masuk ke saluran drainase juga meningkat. Jika desain drainase tidak memperhitungkan perkembangan kota dalam jangka panjang, maka kapasitas saluran akan dengan mudah terlampaui dan menyebabkan luapan air," jelasnya.
Menurut Rian, evaluasi dan pengawasan pentin agar mengetahui apakah sistem drainase yang dibangun konsultan selama ini telah merancang design berdasarkan proyeksi kebutuhan 20 hingga 30 tahun ke depan. Sebab dalam banyak kasus, banjir terjadi karena debit air yang masuk jauh lebih besar dibanding kapasitas saluran yang tersedia Overflow.
Selain itu, Rian menilai kemampuan fiskal Halmahera Tengah yang semakin kuat harus diarahkan pada kebutuhan dasar masyarakat, termasuk drainase dan pembangunan infrastruktur pengendalian banjir yang berkelanjutan.
Ia juga berharap kehadiran Dinas Tata Ruang (Distaru) yang kini berdiri sendiri dapat memperkuat kualitas perencanaan pembangunan daerah. Menurutnya, Distaru perlu menjadi garda terdepan dalam pengawasan dan konsultasi setiap perencanaan sekaligus bersinergi dengan Dinas Pekerjaan Umum (PU) dan BPBD agar penataan ruang, pembangunan infrastruktur, dan mitigasi kebencanaan berjalan secara terintegrasi.
"Program IMS ADIL tidak hanya harus mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, tertata, dan berkelanjutan bagi masyarakat," katanya.
Rian berharap Pemerintah IMS ADIL bersama DPRD menjadikan banjir yang terjadi saat ini sebagai momentum evaluasi dan langkah perbaikan nyata. Menurutnya, keberhasilan pembangunan daerah tidak hanya diukur dari investasi dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kemampuan pemerintah menghadirkan lingkungan yang tangguh terhadap bencana.
"Weda adalah wajah Halmahera Tengah. Karena itu, pembenahan drainase, tata ruang, dan mitigasi banjir harus menjadi perhatian serius demi keselamatan masyarakat dan keberlanjutan pembangunan daerah. Jangan sampai banjir menjadi persoalan tahunan yang terus berulang karena perencanaan yang tidak mampu mengimbangi perkembangan kota," tutupnya.
(Nkess)
