"Weda hari ini sedang berada di persimpangan sejarah, menjadi kota administratif yang tertinggal oleh industrinya sendiri, atau menjelma sebagai pusat peradaban baru Halmahera Tengah yang seimbang dan manusiawi." Oleh : Rian Zainuddin, S.P.W.K
Pembangunan kota pada hakikatnya bukan sekadar mendirikan gedung, membuka jalan, atau mempercepat investasi. Kota adalah hasil panjang dari cipta, rasa, karsa, dan karya manusia. Sebuah ruang hidup yang terbentuk dari interaksi kepentingan sosial, ekonomi, dan politik yang terus bergerak. Wajah sebuah kota, sebagaimana dipahami dalam ilmu Perencanaan Wilayah dan Kota, selalu menjadi cerminan bagaimana konflik, harapan, dan kebijakan dikelola.
Hari ini, refleksi itu terasa nyata di Kota Weda
Weda sedang tumbuh cepat. Bahkan terlalu cepat. Ia berada di tengah arus besar industrialisasi yang mengubah struktur ekonomi dan pola ruang di Kabupaten Halmahera Tengah. Di satu sisi, pertumbuhan ini menjadi bukti bahwa visi pembangunan daerah mulai bergerak maju. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan mendasar apakah pertumbuhan ini benar-benar direncanakan sebagai sistem wilayah yang utuh?
Dalam teori perkotaan modern, kota bukanlah grand accident. Ia tidak lahir secara kebetulan. Kota adalah produk perencanaan, atau sebaliknya, korban dari absennya perencanaan.
Konsep Vaskum dan Vaskom sebenarnya memberikan kacamata sederhana namun kuat untuk membaca kondisi Weda hari ini.
Vaskum berbicara tentang kekuatan internal kota (jumlah penduduk, aktivitas ekonomi, fasilitas publik, pusat perdagangan, hingga dinamika sosial masyarakatnya). Sebuah kota akan hidup apabila potensi internalnya tumbuh dan berputar di dalam wilayah itu sendiri.
Sedangkan Vaskom menekankan hubungan komplementer antarwilayah bagaimana satu kawasan berkembang tanpa mematikan kawasan lain, bagaimana pusat pertumbuhan baru tetap memperkuat kota induknya.
Masalahnya, perkembangan Weda hari ini memperlihatkan ketimpangan antara dua konsep tersebut.
Pertumbuhan kawasan industri di Lelilef menjadi magnet ekonomi baru. Ribuan pekerja, pelaku usaha, hingga aktivitas perdagangan perlahan berpindah mengikuti pusat industri.
Fenomena ini sebenarnya wajar dalam teori perkembangan wilayah. Setiap kawasan industri akan menciptakan pusat gravitasi ekonomi baru. Namun persoalannya muncul ketika migrasi ekonomi tersebut tidak diimbangi dengan strategi Vaskom yang matang.
Hari ini, banyak pelaku UMKM di Weda mulai mengeluhkan penurunan pelanggan. Warung makan sepi, jasa lokal berkurang aktivitasnya, hingga perdagangan kecil kehilangan daya hidupnya. Pelanggan tidak hilang, mereka hanya berpindah.
Perpindahan itu menuju kawasan industri. Di sinilah kegagalan membaca hubungan komplementer wilayah mulai terlihat. Lelilef tumbuh, tetapi Weda kehilangan denyut ekonominya.
Ketika Vaskum Kota Tidak Diperkuat
Jika dianalisis melalui pendekatan Vaskum, Weda seharusnya diperkuat sebagai:
* pusat pelayanan pemerintahan,
* pusat perdagangan regional,
* pusat pendidikan,
* pusat sosial dan budaya masyarakat Halteng.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Aktivitas ekonomi yang mestinya memperkuat kota induk perlahan terdispersi tanpa arah integrasi.
Kota menjadi administratif, bukan ekonomis. Padahal dalam banyak studi perencanaan kota industri di dunia, kota induk tetap dijaga sebagai pusat kehidupan sosial-ekonomi agar keseimbangan wilayah tidak runtuh.
Tidak dapat dipungkiri, pemerintahan dengan semangat IMS-ADIL menunjukkan komitmen kuat membangun Halmahera Tengah. Infrastruktur bergerak, investasi masuk, dan optimisme pembangunan terasa nyata.
Gaya kepemimpinan yang fokus pada realisasi visi-misi pembangunan merupakan modal politik yang sangat penting. Artinya pemerintah daerah sedang bekerja.
Namun pembangunan wilayah tidak hanya membutuhkan kecepatan eksekusi. Ia membutuhkan pembacaan ruang.
Kepemimpinan yang kuat akan mencapai dampak maksimal ketika keputusan pembangunan bertumpu pada analisis sistem wilayah, termasuk pendekatan Vaskum dan Vaskom.
Karena tanpa keseimbangan tersebut, keberhasilan industrialisasi justru dapat menciptakan paradoks daerah kaya investasi tetapi kota utamanya melemah.
Kritik yang Perlu Didengar
Keluhan UMKM bukan sekadar persoalan ekonomi kecil. Ia adalah indikator awal perubahan struktur kota.
Ketika pedagang kehilangan pelanggan, ketika masyarakat memilih menetap dekat industri, ketika aktivitas ekonomi berpindah secara masif, itu bukan fenomena biasa. Itu tanda bahwa sistem ruang sedang bergeser.
Jika tidak diantisipasi, Weda berpotensi mengalami:
* urban hollowing (kota kehilangan aktivitas ekonomi),
* ketergantungan tunggal pada kawasan industri,
* ketimpangan sosial-spasial antarwilayah.
Kritik terhadap kondisi ini bukan bentuk penolakan pembangunan, melainkan upaya menjaga keberlanjutan pembangunan itu sendiri.
Sejujurnya, keresahan penulis terhadap arah perkembangan Weda bukanlah kegelisahan yang muncul hari ini. Ia telah tumbuh sejak penulis kembali dari kota studi beberapa tahun lalu. Ada kebingungan untuk menyampaikan kritik secara terbuka, bukan karena tidak memiliki pandangan, tetapi karena satu kenyataan mendasar, bahwa pada waktu itu Kabupaten Halmahera Tengah belum memiliki Dinas Tata Kota yang berdiri sendiri.
Perencanaan kota selama ini berjalan dalam ruang kelembagaan yang terbatas. Padahal, kota yang sedang bertumbuh cepat membutuhkan institusi khusus yang membaca masa depan ruangnya secara serius.
Hari ini, pemerintahan IMS-ADIL menghadirkan harapan baru itu. Pembentukan Dinas Tata Kota menjadi langkah strategis yang patut diapresiasi. Lebih dari sekadar pembentukan struktur birokrasi, ini adalah sinyal bahwa pemerintah mulai menyadari pentingnya perencanaan ruang sebagai fondasi pembangunan jangka panjang.
Penunjukan Ir. Bambang Prakoso sebagai Plt. Kepala Dinas Penataan Ruang dan Kawasan Perkotaan Kab. Halmahera Tengah menjadi keputusan yang, bagi penulis, merupakan terobosan luar biasa sekaligus pilihan yang tepat.
Penulis mengenal sosok Ir. Bambang Prakoso sejak penulis sibuk mencari data pendukung untuk menyelesiakan jurnal dengan tajuk Analisis Kemampuan dan Kesesuaian Lahan Permukiman di Kabupaten Halmahera Tengah. Pada waktu itu Pak Bambang masih mengabdi di lingkungan Dinas PUPR. Ia dikenal memiliki kemampuan perencanaan yang kuat, memahami teknis pembangunan sekaligus mampu membaca arah pertumbuhan wilayah secara strategis. Yang lebih penting, ia tidak hanya memahami peta dan data, tetapi juga memiliki kedekatan dengan budaya lokal Halteng, sebuah modal yang sering kali justru tidak dimiliki oleh banyak perencana kota.
Perencanaan kota tidak bisa hanya rasional secara teknokratik; ia harus kontekstual secara sosial dan kultural. Kombinasi inilah yang menghadirkan optimisme baru bagi masa depan Weda.
Membangun Keseimbangan Baru
Weda masih memiliki peluang besar untuk bangkit sebagai kota utama Halteng. Langkah strategis yang dapat dipertimbangkan antara lain:
* memperkuat fungsi perdagangan dan jasa di Weda,
* membangun konektivitas harian Weda–Lelilef,
* menciptakan pusat UMKM terpadu,
* menjadikan Weda sebagai pusat hunian nyaman bagi pekerja industri,
* menyusun ulang RTRW berbasis analisis Vaskum–Vaskom.
Artinya, Lelilef tidak harus diperlambat. Yang perlu dilakukan adalah memastikan pertumbuhannya menguatkan Weda, bukan menggantikannya.
Pada akhirnya, kota selalu mencerminkan cara pemimpin mengelolanya. Struktur, bentuk, dan wajah kota adalah hasil dari keputusan politik, keberanian perencanaan, dan kemampuan membaca masa depan.
Weda hari ini sedang berada di persimpangan sejarah, menjadi kota administratif yang tertinggal oleh industrinya sendiri, atau menjelma sebagai pusat peradaban baru Halmahera Tengah yang seimbang dan manusiawi.
Kepemimpinan IMS-ADIL telah membuka pintu pembangunan. Kini, dengan hadirnya Dinas Tata Ruang, harapan itu terasa semakin nyata.
Karena kota yang baik bukan kota yang paling cepat tumbuh, melainkan kota yang tetap hidup bagi warganya, adil bagi ruangnya, dan berkelanjutan bagi generasi yang akan datang.
