WEREINFO — WEDA, 29/4/2026 | Keluhan wisatawan mancanegara terhadap kondisi kawasan wisata Nusliko Park di Kabupaten Halmahera Tengah mendapat respons dari Dinas Pariwisata setempat. Pemerintah daerah mengakui masih adanya sejumlah kendala dalam pengelolaan destinasi tersebut, sekaligus membuka peluang kerja sama dengan pihak ketiga untuk meningkatkan kualitas kawasan.
Ramona Schmid, turis asal Jerman, mengaku prihatin melihat kondisi Nusliko Park yang dinilainya kurang terawat, meski memiliki potensi wisata yang besar.
“Sebagai turis Eropa, saya sangat mengapresiasi tempat ini, namun saya merasa prihatin karena kawasannya terlihat tidak terurus,” ujar Ramona saat berkunjung ke lokasi pada Rabu, (15/4/2026).
Menurutnya, Nusliko Park memiliki daya tarik yang luar biasa, baik bagi wisatawan mancanegara maupun masyarakat lokal. Namun, minimnya pemeliharaan infrastruktur dan fasilitas menjadi catatan serius.
Ia pun mendorong pemerintah daerah untuk mempertimbangkan kolaborasi dengan pihak swasta jika mengalami keterbatasan dalam pengelolaan.
“Jika pemerintah tidak siap untuk mengembangkan dan menata kawasan yang indah ini, sebaiknya ditawarkan kepada investor yang kompeten dan memiliki visi jangka panjang,” tambahnya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Halmahera Tengah, Salmun Saha, menjelaskan bahwa kawasan Nusliko merupakan salah satu destinasi strategis yang berada paling dekat dengan Kota Weda, dengan nilai investasi lebih dari Rp10 miliar.
Ia mengungkapkan, kawasan tersebut mulai dibangun dan dibuka untuk umum sejak 2019, namun operasionalnya sempat terhenti akibat pandemi COVID-19.
“Setelah dibuka pada 2019, tidak lama kemudian pandemi melanda. Tahun 2020 hingga 2021 kawasan ini ditutup total,” jelasnya saat diwawancarai pada kamis, (23/4/2026).
Pada 2023, kawasan Nusliko kembali dibuka dan dalam waktu sekitar delapan bulan mampu menghasilkan pendapatan lebih dari Rp100 juta dari sektor retribusi, seperti tiket masuk, parkir, dan penyewaan fasilitas.
Meski demikian, pengelolaan kawasan diakui belum maksimal. Tingginya biaya operasional serta keterbatasan sumber daya manusia menjadi kendala utama.
“Biaya listrik dan air cukup besar, sementara tenaga pengelola terbatas. Itu yang membuat pengelolaan belum optimal,” ujarnya.
Selain itu, masalah ketersediaan air bersih juga menjadi sorotan, termasuk yang dikeluhkan oleh wisatawan. Gangguan pasokan dari PDAM membuat kebutuhan air di kawasan tersebut belum terpenuhi dengan baik.
Upaya pengeboran sumur telah dikaji, namun membutuhkan biaya besar.
“Untuk sumur bor, kedalaman bisa mencapai 40–50 meter dengan estimasi biaya di atas Rp50 juta. Ini menjadi tantangan bagi kami,” katanya.
Pada pertengahan 2024, kawasan Nusliko kembali ditutup sementara untuk perbaikan sejumlah fasilitas yang rusak, dengan proses rehabilitasi yang berlangsung hingga 2025.
Menghadapi berbagai tantangan tersebut, Pemerintah Kabupaten Halmahera Tengah kini membuka peluang kerja sama dengan pihak ketiga guna mendorong pengelolaan yang lebih profesional dan berkelanjutan.
“Kami sudah membuka ruang sejak 2023 bagi pihak ketiga yang berminat. Saat ini sudah ada calon dari pihak lokal dan kami sedang menyiapkan draft kerja sama atau MoU,” ungkap Salmun.
Ia menegaskan, pihak pengelola nantinya harus memiliki kemampuan finansial yang memadai, mengingat masih banyak fasilitas yang perlu diperbaiki dan dikembangkan.
Pemda juga berencana memberikan kelonggaran pada tahun pertama kerja sama, agar pengelola memiliki ruang untuk melakukan pembenahan tanpa dibebani target pendapatan.
“Kami optimistis, dengan pengelolaan yang lebih profesional, Nusliko bisa berkembang dan memberikan kontribusi signifikan bagi pendapatan daerah,” tandasnya.
Pemerintah berharap, melalui kolaborasi yang tepat, kawasan Nusliko Park dapat kembali menjadi destinasi unggulan yang tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan.
(Nkess)
