Breaking News

Ali Abas Dibunuh, Negara Lupa Siapa Dia

 

Baru empat belas hari berselang sejak petani di seluruh dunia memperingati Hari Perjuangan Tani Internasional. Momentum ini merupakan pengingat atas tragedi kelam tiga dekade silam di Eldorado dos Carajas, Brasil, ketika 19 petani tanpa tanah dibantai saat memperjuangkan hak mereka. 


Namun, sejarah kelam 30 tahun silam itu seolah menolak untuk usai. Dari Brasil ke Patani Barat, Halmahera Tengah, hanya berjarak kurang lebih 18.000 kilometer, duka yang sama kembali berulang: seorang petani renta terbunuh secara sadis di atas tanah kebunnya sendiri.


Petani itu bernama Ali Abas. Ia ditemukan tak bernyawa di antara pepohonan pala miliknya. Tubuh rentanya dipenuhi luka sayatan benda tajam, dengan kebengisan yang membekas jelas pada wajah hingga lehernya, sebuah kekejaman abad modern yang pelakunya kini hanya dijuluki sebagai "Orang Tak Dikenal" (OTK), yang tiap tahun melakukan teror dan pembunuhan.


Kematiannya bukan sekadar duka bagi keluarga atau warga kampung, melainkan sebuah sinyal buruk tentang kegagalan negara dalam menjalankan tugas paling mendasarnya: melindungi nyawa rakyatnya.


Mengapa Ali Abas seolah menjadi asing di mata negara? Mungkin karena jarak fisik yang terlampau jauh. Dari Istana Negara ke Patani Barat membentang jarak 2.500 kilometer, yang membutuhkan perjalanan udara, laut, hingga lintas darat selama belasan jam. Namun, jarak Kabupaten ke Kecamatan Patani Barat sebenarnya hanya sekitar 126 kilometer atau 3 jam perjalanan darat. Meski begitu, Ali Abas tetap dianggap bukan siapa-siapa.


Ironisnya, negara sebenarnya sangat "mengenal" hasil keringat Ali Abas. Dari setiap butir pala yang ia tanam dan panen, terdapat pajak dan retribusi yang masuk ke kas negara serta meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). 


Dari lelah dan harapan petani seperti Ali Abas pulalah, negara memperoleh sumber daya untuk membayar gaji pegawai negeri, menggaji aparat, membangun jalan, hingga mendirikan kantor-kantor pemerintahan.


Namun, perlindungan yang seharusnya menjadi hak timbal balik itu absen. Ketika Ali Abas dibantai di kebun palanya, negara baru hadir melalui aparat hukum atas nama keamanan setelah nyawanya hilang. 


Di titik inilah kita melihat sebuah kenyataan pahit: negara hanya mengingat kontribusi rakyatnya, namun lupa pada sosok manusianya.

Weda, 30 April 2026

Oleh: Firmansyah Usman