Iklan

Breaking News

Sujud Tilawah di Subuh Jumat dan Spirit Sunnah di Bulan Ramadan


Di sejumlah masjid, ketika imam membaca Surah As-Sajdah pada salat Subuh hari Jumat lalu melakukan sujud tilawah, tidak jarang sebagian jamaah terlihat kebingungan. Bahkan ada yang beranggapan bahwa salat tersebut menyimpang karena dianggap terdapat “tiga kali sujud” dalam satu rakaat salat Subuh. Padahal, anggapan itu lahir dari ketidaktahuan terhadap salah satu sunnah yang pernah dipraktikkan oleh Nabi Muhammad ï·º. 

Dalam riwayat hadis sahih disebutkan bahwa Rasulullah ï·º membaca Surah As-Sajdah pada rakaat pertama salat Subuh hari Jumat dan Surah Al-Insan pada rakaat kedua. Ketika sampai pada ayat sajdah di dalam Surah As-Sajdah, beliau melakukan sujud tilawah, yaitu sujud yang dilakukan ketika membaca atau mendengar ayat sajdah dalam Al-Qur’an. Riwayat ini disampaikan oleh sahabat Abu Hurairah dan tercatat dalam kitab hadis seperti Sahih Bukhari dan Sahih Muslim.

Sujud tilawah bukanlah tambahan sujud dalam rukun salat. Ia tidak dihitung sebagai bagian dari dua sujud dalam satu rakaat, melainkan bentuk kepatuhan terhadap ayat Al-Qur’an yang memerintahkan manusia untuk bersujud kepada Allah. Dengan kata lain, sujud ini adalah respons spiritual terhadap firman Tuhan, bukan perubahan dalam struktur salat itu sendiri.

Kesalahpahaman yang sering muncul di tengah masyarakat menunjukkan bahwa masih banyak sunnah Nabi yang belum dipahami secara luas. Sesuatu yang jarang dipraktikkan sering kali terasa asing, bahkan dianggap keliru. Padahal, justru di situlah pentingnya memperdalam pengetahuan agama agar umat tidak mudah menilai suatu amalan hanya dari kebiasaan yang selama ini mereka lihat.

Apalagi ketika umat Islam berada dalam bulan suci Ramadan, semangat untuk menghidupkan sunnah Nabi seharusnya semakin besar. Ramadan adalah bulan yang dimuliakan, di mana setiap amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Salman al-Farisi, Rasulullah ï·º bersabda bahwa di bulan Ramadan, siapa yang melakukan satu amal sunnah akan mendapatkan pahala seperti melakukan amalan wajib, dan siapa yang melakukan amalan wajib akan mendapatkan pahala berlipat ganda.

Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah ï·º bersabda:

“Barang siapa berpuasa di bulan Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

(HR. Sahih Bukhari dan Sahih Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa Ramadan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga, tetapi momentum untuk memperbanyak ibadah, baik yang wajib maupun yang sunnah. Membaca Al-Qur’an, bersedekah, memperbanyak zikir, hingga menghidupkan sunnah-sunnah Nabi dalam salat merupakan bagian dari upaya memaksimalkan keberkahan bulan tersebut.

Karena itu, praktik seperti sujud tilawah ketika membaca ayat sajdah tidak seharusnya dipandang sebagai hal yang aneh atau menyimpang. Sebaliknya, ia justru menjadi pengingat bahwa warisan ibadah Rasulullah ï·º begitu luas dan kaya. Tugas umat hari ini bukanlah menolak sesuatu yang terasa asing, melainkan mempelajarinya dengan ilmu agar setiap ibadah yang dilakukan semakin dekat dengan tuntunan Nabi.

Pada akhirnya, Ramadan mengajarkan satu hal penting: semakin banyak sunnah yang kita hidupkan, semakin besar pula peluang kita meraih rahmat dan ampunan Allah. Dan memahami sunnah dengan baik adalah langkah awal agar ibadah yang kita jalankan tidak hanya benar, tetapi juga penuh makna.
Oleh : Mr.chulleyevo (Pegiat Literasi Desa Were)
Iklan