WEREINFO — Halmahera Tengah | Ratusan masyarakat dari Desa Lelilef dan Desa Woebulan menggelar aksi unjuk rasa di kawasan industri PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Senin (30/03/2026). Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk tuntutan pertanggungjawaban perusahaan terhadap persoalan lingkungan dan dampak sosial yang dirasakan masyarakat lingkar industri.
Aksi massa dimulai sekitar pukul 09.00 WIT dengan titik kumpul dari Desa Woebulan dan Sawai. Massa aksi yang didominasi ibu rumah tangga berjalan menuju kawasan industri sambil membawa spanduk tuntutan serta menyampaikan orasi secara bergantian.
Dalam aksi tersebut, masyarakat menyampaikan keresahan atas kondisi lingkungan yang dinilai semakin memburuk. Warga mengaku mengalami kesulitan memperoleh air bersih sejak meningkatnya aktivitas industri di kawasan IWIP.
Selain persoalan air bersih, warga juga menyoroti kerusakan seng rumah yang terjadi secara cepat dan tidak normal. Warga menduga kondisi tersebut dipicu oleh debu aktivitas industri yang beroperasi di dalam kawasan perusahaan.
> “Setiap hari debu masuk ke kampung. Seng cepat rusak dan bocor saat hujan. Kami hanya ingin perusahaan bertanggung jawab,” ungkap Ketua karang Taruna Woebulan dalam orasinya.
Situasi sempat memanas ketika massa aksi tiba di area Bandara Cekel yang ditetapkan aparat kepolisian sebagai batas penyampaian aspirasi.
Aparat kepolisian yang mengawal jalannya demonstrasi membuat pagar pembatas bagi massa aksi sebagai bentuk pengamanan kawasan Objek Vital Nasional.
Pembatasan tersebut memicu adu argumen antara massa aksi dan aparat keamanan. Massa bersikeras ingin menyampaikan tuntutan secara langsung kepada pihak perusahaan.
Ketegangan berlangsung cukup lama namun tetap terkendali di bawah pengamanan aparat.
Situasi memanas berlangsung hingga sekitar pukul 13.00 WIT. Pada waktu tersebut, manajemen PT IWIP akhirnya menerima perwakilan massa aksi untuk melakukan dialog langsung di dalam kawasan perusahaan.
Meski perwakilan massa telah diarahkan masuk untuk melakukan pertemuan dengan pihak manajemen, sebagian besar massa aksi tetap bertahan di badan jalan area Bandara Cekel sambil menunggu hasil hearing berlangsung hingga selesai.
Pertemuan tersebut diharapkan menjadi langkah awal penyelesaian persoalan yang selama ini dikeluhkan masyarakat.
Dalam aksi tersebut, masyarakat menyampaikan sejumlah tuntutan utama kepada pihak perusahaan, yakni:
1. Penyediaan air bersih bagi masyarakat.
2. Penanganan seng rumah warga yang bocor.
3. Evaluasi akomodasi perusahaan yang dinilai berdampak fatal terhadap usaha kos-kosan milik masyarakat.
4. Transparansi penyaluran program Corporate Social Responsibility (CSR).
5. Penyediaan dum truck untuk penyiraman jalan guna mengurangi debu di wilayah permukiman.
Masyarakat berharap pihak perusahaan segera memberikan solusi nyata agar persoalan lingkungan dan sosial di wilayah lingkar industri dapat diselesaikan secara adil.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak perusahaan terkait hasil pertemuan dengan perwakilan massa aksi.
(Nkess)
